KISAH PENDERITA OCD YANG PERLU DISIMAK

Posted on

Beberapa orang masih kurang menyadari pentingnya pemahaman mengenai kesehatan mental, termasuk gangguan mental yang dapat terjadi pada siapa saja. Salah satu dari gangguan mental yang cukup banyak dialami oleh manusia di dunia adalah OCD.

Apa itu OCD?

Dikutip dari situs NIMH atau National Institute of Mental Health, Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) merupakan gangguan yang umum, kronis, dan berlangsung lama dengan gejala individu memiliki pikiran (obsesi) dan/atau perilaku (kompulsi) yang tidak dapat dikendalikan dan berulang sehingga ia merasa ingin melakukannya kembali terus-menerus.

Sedangkan dalam situs American Psychiatric Association,  OCD diartikan sebagai gangguan psikologis di mana individu mempunyai ide, pikiran, atau sensasi berulang dan tidak diinginkan sehingga mereka termotivasi untuk melakukan suatu hal secara berulang terus-menerus sampai merasa cukup, seperti mencuci tangan, memeriksa barang, membersihkan barang, dan aktivitas lain yang mengganggu kehidupan sehari-hari serta interaksi sosial secara signifikan.

Dalam Rahmawati, Wibowo, dan Legiani (2019), obsesi atau pengulangan pikiran bisa memberikan pengaruh yang mengakibatkan adanya kompulsi atau perilaku berulang. Obsesi dapat terbentuk dari pengalaman individu, interaksi dengan sosial dan budaya, serta kegagalan di masa sebelumnya yang kemudian berubah menjadi karakter tetap individu.

Weissman, dkk. (1994) dalam Fyer, dkk. (2005) mengungkapkan bahwa OCD adalah gangguan yang sudah terjadi setiap tahun dengan persentase sekitar 1 sampai 3 persen dari populasi pertahun. Mayoritas penderita OCD tersebut 75 hingga 91 persennya memiliki gabungan antara obsesi dan kompulsi (Akhtar, dkk., 1975; Foa & Kozak, 1995; Clark, dkk., 2010).

Obsesi memiliki beberapa gejala yang umum, seperti rasa takut berlebih terhadap kontaminasi (kuman, kotoran, bakteri, dan sebagainya), pikiran yang terlarang atau tabu yang tidak diinginkan (berhubungan dengan seks, agama, dan lain-lain), pikiran yang agresif terhadap diri sendiri maupun orang lain, serta keharusan segala hal untuk simetris sesuai dengan aturan yang sempurna.

Sementara kompulsi umumnya ditandai oleh upaya membersihkan barang atau mencuci tangan yang berlebihan, mengatur segala sesuatu dengan cara tertentu dengan tepat dan akurat, melakukan pengecekan ulang pada sesuatu (seperti mengecek apakah pintu sudah dikunci atau belum dan memastikan kompor sudah dimatikan atau belum), serta terus menerus menghitung.

Pada dasarnya, faktor penyebab OCD secara khusus dan pasti masih belum diketahui. Namun, terdapat beberapa faktor risiko yang bisa memicu gejala OCD, di antaranya yaitu faktor genetik, struktur dan fungsi otak, serta pengaruh lingkungan termasuk pengalaman traumatis yang dialami individu di masa lalu.

Gangguan OCD dapat menimpa pada siapa saja, tanpa terkecuali. Bahkan, artis atau publik figur yang terlihat sudah memiliki kekayaan berlebih, tempat tinggal yang nyaman, ketenaran, dan lain-lain juga dapat memiliki OCD sebab di balik itu semua, mereka pasti memiliki latar belakangnya masing-masing.

Artis yang memiliki OCD salah satunya adalah David Beckham. Pria yang dikenal sebagai pesepak bola profesional dan kini menjadi suami dari Victoria Beckham ini ternyata juga memiliki gangguan OCD. Ia mengakui bahwa memiliki kebiasaan menghitung pakaian dan menempatkan beberapa majalah dalam garis lurus dan pola simetris.

Ia pun mengungkapkan pada sebuah sesi interview kepada ITV1 bahwa OCD yang dimilikinya membuat ia selalu menata segala hal secara berpasangan dan sejajar. Selain itu, alasan mengapa ia memiliki banyak tato juga karena Beckham merasa kecanduan dengan rasa sakit dari jarum.

Victoria juga pernah menyampaikan kebiasaan suaminya untuk melihat lemari pendingin dalam kondisi yang rapih dan sesuai dengan pembagiannya. Misalnya, Beckham akan meletakkan kaleng Pepsi dalam urutan dan jumlah yang sudah ia tentukan dan meletakkan sisanya pada lemari lain agar isi lemari pendingin tetap sesuai dengan aturannya.

Dampak dari OCD yang dimilikinya adalah ia merasa kesulitan ketika harus pergi ke luar daerah, seperti setelah memasuki hotel, sebelum ia bisa beristirahat, ia harus meletakkan selembaran serta buku-buku ke dalam lemari hingga sudah terlihat sempurna baginya, baru ia bisa beristirahat dengan nyaman.

Akan tetapi, OCD tidak selamanya berdampak buruk bagi Beckham, ia pun merasakan manfaatnya karena gangguan tersebut membantu dalam kariernya di dunia sepak bola. Hal tersebut karena ia merasa ada dorongan untuk terus berlatih dan menjadi penyebab ritual sebelum tendangan bebas yang menjadikannya aspek terpenting.

Untuk mengatasi OCD, Beckham mengaku bahwa penyembuhan terbaik baginya adalah belajar hidup bersama dan tidak perlu merasa terbebani karenanya. Di sisi lain, ia juga melakukan metode penyembuhan yang dibantu oleh profesional, termasuk psikoterapi, penggunaan obat, serta deep brain stimulation.

Artis indonesia yang sangat terkenal dengan kemampuan impersonate-nya serta berbagai tingkah laku di layar kaca yang sangat menyenangkan dan membawa tawa juga tidak dapat menghindari gangguan psikologis yang dialaminya. Rina Nose, perempuan yang saat ini berusia 37 tahun juga mengalami OCD.

Rina mengakui kondisinya tersebut pada pertengahan tahun 2020 mengakui jika dirinya didiagnosis OCD yang membuatnya terus melakukan sesuatu secara berulang dan jika tidak dilakukan maka rasa cemas akan terus mengikutinya. Selain itu, ia juga menjadi sangat bersih, seperti pada saat awal datang ke Jakarta, ia terus menerus mandi jika merasa berkeringat dan cuci tangan hingga tubuhnya kering.

Menurut Rina, salah satu faktor penyebab OCD dalam dirinya adalah karena sang ibu sangat menekankan pada kebersihan dan kerapihan sehingga ketika ia besar, Rina pun merasa segala hal harus bersih dan rapih. Bahkan, ketika ia diketahui memelihara anjing di rumah, orang-orang khawatir karena Rina beragama Islam. Rina pun menjawabnya dengan santai karena sebelum memiliki anjing, standar kebersihannya sudah sangat tinggi.

Demikianlah penjelasan mengenai OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder serta kisah dari David Beckham dan Rina Nose yang juga hidup dengan gangguan tersebut. OCD bukanlah kondisi yang memalukan sehingga perlu ditutup-tutupi. Apabila merasakan beberapa gejala atau melihat orang-orang di sekitar menunjukkan gejala OCD, segera berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental, seperti psikolog maupun psikiater.

Untuk mengetahui kebenaran diagnosis, sangat tidak disarankan untuk melakukan self-diagnosed hanya berdasarkan sumber-sumber di internet bahkan berusaha mengatasi sendiri dengan cara-cara yang belum pasti tepat atau membiarkannya saja karena dapat mengakibatkan bahaya yang lebih besar.

GANGGUAN PSIKOLOGIOCD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *