GANGGUAN PSIKOGENIK

Posted on

Gangguan Psikogenik Menurut Psikologi

Gangguan psikogenik menurut psikologi adalah variasi cara berbahasa yang normal, yang merupakan ungkapan dari gangguan di bidang mental. Modalitas mental yang terungkap oleh cara berbicara sebagian besar ditentukan oleh nada, intonasi, dan intensitas suara, lafal, dan pilihan kata. Ujaran yang berirama lancar atau tersendat-sendat dapat juga mencerminkan sikap mental si pembicara.

Berdasarkan hasil analisis, bahasa alay tidak memiliki keberaturan. Bahasa alay cenderung mempalatalisasikan fonem [s], dan merubah fonem [r] menjadi fonem [l] ataupun

[y]

. Ini menandakan bahwa bahasa alay cenderung seperti bahasa individu kecil atau bahasa bayi yang mengalami kesulitan dalam menyebutkan fonem [r] dan [s]. Baca juga mengenai : pentingnya olahraga untuk kesehatan mental

Penyebab Gangguan Psikogenik Menurut Psikologi

Ingin mencari perhatian orang lain

Dengan kecenderungan tersebut itu menunjukkan bahwa bahasa itu ingin memperlihatkan kemanjaan bagi penuturnya. Para penutur yang menggunakan bahasa alay dapat dikatakan mengalami Gangguan psikogenik menurut psikologi khususnya berbicara manja, karena dengan menggunakan bahasa alay seseorang itu disadari maupun tidak, dia ingin mencari perhatian orang lain. Baca juga mengenai : dampak prostitusi bagi kesehatan mental wanita

Akibat adanya interaksi sosial

Bahasa hanya bisa muncul akibat adanya interaksi sosial. Dalam interaksisosial terjadi saling pengaruh mempengaruhi. Dalam proses interaksi, orang yang lebih aktif melakukan komunikasi akan mendominasi interaksi tersebut. Maka tak heran apabila suatu bahasa lebih banyak dipakai, maka bahasa itu akan berkembang dalam masyarakat. Baca juga mengenai : alasan tidak boleh mengabaikan gangguan mental

Bahasa dan masyarakat akan selalu menjadi pasangan yang mengisi satu sama lain, karena adanya interaksi sosial yang menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, sebenarnya masih ada alat lain untuk berkomunikasi akan tetapi bahasa mungkin yang terbaik dalam berkomunikasi. Di dalamnya ada penutur dan juga tindak tutur, bahasa yang bersifat arbitrer dan bersifat universal sangat memungkinkan utuk melahirkan kata-kata atau padanan baru dalam bahasa tersebut. Baca juga mengenai : alasan pentingnya keluarga dalam menjaga kesehatan mental

Trend

Perkembangan bahasa pada masyarakat kita mungkin sudah sejak dahulu mengalami perkembangan misalnya di era Sembilan puluhan yang pernah menjadi “trend” yaitu bahasa prokem atau bahasa gaul yang di populerkan oleh remaja pada waktu itu. Demkian halnya pada remaja saat ini mungkin kita sudah sangat sering dan sangat familiar sekali dengan yang namanya komunitas individu layangan atau yang lebih dikenal dengan nama “alay”. Baca juga mengenai : alasan kenapa bernostalgia bisa menyehatkan mental

Bangga menjadi Alay

Alay itu sendiri adalah singkatan dari Individu layangan, Alah lebay, Individu Layu, atau Individu kelayapan yang menghubungkannya dengan individu jarpul (Jarang Pulang). Tapi yang paling santer adalah individu layangan. Dominannya, istilah ini untuk menggambarkan individu yg sok keren, secara fashion, karya (musik) maupun kelakuan secara umum.

Alay diartikan “individu kampung”, karena individu kampung yang rata-rata berambut merah dan berkulit sawo gelap karena kebanyakan main layangan. Gejala individu layang ini biasanya ditunjukan dengan cara mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakain, sekaligus meningkatkan kenarsisan. Individu layangan atau alay ini sama seperti komunitas lainnya yang memiliki bahasa tersendiri yang sebagian besar hanya komunitas merekalah yang mengerti dan memahami tulisan maupun bahasa mereka.

Mengapa dikatakan sebagian besar hanya individu alay yang mengerti bahasa ataupun tulisan mereka, ini dikarenakan bahasa alay sangat sulit di mengerti atau dibaca oleh orang awam yang tidak biasa berbahasa alay. Akan tetapi bahasa ini dianggap oleh komunitas alay sebagai bahasa yang biasa-biasa saja karena simple.

Bahasa Alay ini juga sedikit mengadopsi sedikit logat – logat ke-melayuan, dan hingga saat ini bahasa ini telah dipakai untuk SMS , Chatting/jejaring sosial, ataupun untuk penulisan sehari- hari. Bahasa alay juga banyak digunakan oleh sebagian selebritis dan kalangan remaja tertentu lainnya. Secara perlahan bahasa ini juga merambah kalangan remaja terutama di kota-kota besar.

Dikarenakan aturan pembentukan kata bahasa alay cenderung tidak konsisten, maka untuk orang awam dibutuhkan waktu untuk menghafal dan memahaminya. Bahasa alay dapat diartikan sebagai variasi bahasa yang bersifat sementara yang biasanya berupa singkatan menggabungkan huruf dengan angka, memperpanjang atau memperpendek dan mencampurkan huruf besar dan kecil membentuk sebuah kata maupun kalimat.

Bahasa alay lebih sering digunakan oleh individu-individu remaja seumuran SMP maupun SMU, yang secara tidak langsung bahasa tersebut menjadi suatu budaya. Uniknya, bahasa pergaulan yang sebenarnya diciptakan untuk kalangan terbatas justru berkembang menjadi bahasa pergaulan yang digunakan bahasa sehari-hari. Hal itu, karena terjadi kebocoran ragam bahasa. Bocor dari kelompok social tertentu ke kelompok social lainnya.

Bahasa Alay muncul pertama kalinya sejak ada program SMS (Short Message Service) atau pesan singkat dari layanan operator yang mengenakan tarif perkarakter ataupun per SMS yang berfungsi untuk menghemat biaya. Namun dalam perkembangannya kata-kata yang disingkat tersebut semakin melenceng, apalagi sekarang sudah ada situs jejaring sosial.

Dan sekarang penerapan bahasa Alay sudah diterapkan di situs jejaring sosial tersebut, yang lebih parahnya lagi sudah bukan menyingkat kata lagi, namun sudah merubah kosa katanya bahkan cara penulisannya pun bisa membuat sakit mata orang yang membaca karena menggunakan huruf besar kecil yang diacak ditambah dengan angka dan karakter tanda baca. Bahkan arti kosa katanya pun menceng jauh dari yang dimaksud.

Cara Mengatasi dan Cara Mencegah Gangguan Psikogenik

“Ciyus, bun?”, “Tante jangan lebay, deh”, “Miapah, aku harus minum susu?” Racau individu dengan genitnya. Istilah-istilah slang ini dibuat oleh sekelompok orang, yang merupakan plesetan dari Bahasa Indonesia. Awalnya sebagai ‘lucu-lucuan’ saja, seperti ciyus adalah “serius”, miapah berasal dari “demi apa”, dan lebay yang artinya “berlebihan”, serta masih banyak kosa kata lainnya.

Risiko dari bebasnya arus Informasi dan adanya keseragaman tren dengan cara bicara kelewat gaul di sekitar individu, membuat individu tak terkecuali jadi terkena dampaknya. Padahal, menurut psikolog Dr. Adriana S. Ginanjar, M.S, dari Klinik Terpadu, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia,

sebaiknya individu diperkenalkan pada Bahasa Indonesia yang baik dan benar, sebelum akan diperkenalkan bahasa gaul atau bahasa asing. Tapi, bila Bahasa Indonesia individu sudah telanjur “tercemari” bahasa alay, orangtua wajib meluruskannya. Cek langkah berikut!

Wilayah Bebas Alay

Boleh saja individu Anda mengenal dan sesekali menggunakan bahasa gaul, tapi alangkah lebih baik bila hal itu terjadi  pada waktu yang tepat, yaitu, ketika ia sudah beranjak dewasa. Tepatnya mindividuala  ia sudah dapat membedakan dan memilih kata yang cocok atau tidak, untuk digunakan pada berbagai kesempatan. Maka, biasakan individu untuk bertutur kata baik saat di rumah.

Caranya, buat kesepakatan bersama seluruh anggota keluarga untuk ‘mengerem’ kata-kata gaul tadi, dan hanya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jadikan rumah Anda, wilayah bebas dari paparan bahasa alay, dan ini bukan hanya berlaku bagi individu tapi juga bagi ayah, bunda, mbak, bahkan tamu yang berkunjung.

“Tidak Keren,”

Satrio, salah satu personil band Alexa, menuturkan, ia kurang suka ketika mendengar individunya, Nura Alya Kinanti (4) berkilah, “Biasa aja keles’ sebab menurutnya, hal itu bisa saja akan merusak kosa kata bahasa Indonesia yang baik dan benar di usianya yang masih sangat dini.

Tentu saja Anda boleh menyampaikan rasa tidak berkenan Anda, jika individu menggunakan kata-kata itu. Pilihlah kalimat sederhana dan positif ketika menyampaikan pesan tersebut, serta alasan ringan yang dibutuhkan individu, sebagai argumen kuatnya.

Misalnya, “Nak, menurut Ayah, kata-kata itu sama sekali tidak keren, lho. Yang keren itu ketika kamu bisa menggunakan kata-kata yang baik dan benar.” Anda juga bisa menyalipkan role model kesukaan individu untuk dicontoh, “Tante Icha bicaranya tidak pernah pakai kata-kata itu, tapi dia tetap keren, kok.”, bila kebetulan individu mengidolakan tantenya.

Coba Teknik Pengabaian

Menurut Psikolog Perkembangan Individu, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., individu balita sering meniru ucapan atau perbuatan orang lain, tanpa pemahaman terhadap apa yang ditirunya. Gunakan teknik pengabaian dengan melakukan dan memberikan perhatian pada kegiatan lain, sehingga perhatian individu juga ikut teralihkan.

Teknik mengabaikan berbeda dengan memarahi, sebab dengan marah, individu akan merasa mendapat perhatian, meskipun hal itu adalah perhatian yang negatif, maka ia akan senang untuk mengulangnya lagi. Sebaiknya, orang tua memberikan perhatian pada kegiatan lain, misalnya menyanyikan lagu individu-individu, maka individu akan lebih tertantang dan memberikan fokus pada lagu individu-individu tersebut.

Perkaya Kosa Kata

Kadang-kadang individu balita menggunakan bahasa alay, karena tidak paham kosa kata lainnya yang lebih pantas digunakan.  Misalnya, ketika ia “mengobral” kata “ciyus miapa?“ –sampai sampai tak sesuai dengan konteks- mungkin karena saat ini kalimat itu saja yang dikuasainya untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan.

Untuk itu, penting meningkatkan perbendaharaan kata dan kalimat yang dikuasai individu, agar ia bisa berbahasa secara tepat, sesuai konteks dan tidak impulsif Anda bisa menambah kosa kata baru melalui kegiatan seperti bernyanyi, membaca dan mendongeng.

Menurut Anna Surti, umumnya balita usia 4 tahun sudah mengenali, mengerti, melafalkan  lebih dari 1500 kata secara jelas dan banyak bertanya. Hal ini bisa Anda manfaatkan untuk maksimalkan waktu berkualitas Anda dengannya, sekaligus mengenalkan kosa kata baru.

Ada Dendanya

Mendisiplinkan individu memang gampang-gampang susah, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Buatlah perjanjian dengan individu, untuk tidak menerapkan kosa kata alay. Saat ia ketahuan sedang menggunakannya, jangan lelah untuk terus mengingatkan. Bila sudah berulangkali tapi masih tidak mempan, terapkan semacam denda.

“Yuk, kita buat kesepakatan, kalau kamu (atau Bunda) menggunakan kata itu lagi, berarti kamu (atau Bunda)  tidak boleh menyalakan acara TV kesukaan, setuju?”  Petik keuntungan di balik denda ini, Anda jadi bisa memiliki waktu berkualitas bersama individu selain menonton acara televisi.

Nah, jangan sampai kamu mengikuti kebiasaan alay atau gangguan psikogenik ini ya.. sampai jumpa di artikel berikutnya, terima kasih.

GANGGUANGANGGUAN JIWAGANGGUAN KEPRIBADIANGANGGUAN MENTALGANGGUAN PSIKISGANGGUAN PSIKOLOGI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *