30 JENIS – JENIS PERILAKU ABNORMAL DALAM PSIKOLOGI DAN KARAKTERISTIKNYA

Posted on

Ketika kita melihat seseorang yang berperilaku di luar kebiasaan, hal pertama yang terlintas adalah orang tersebut sedang bertingkah laku tidak normal. Memang beberapa perilaku yang menyimpang dari etika atau kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat, akan sangat cepat mendapatkan penilaian bahwa perilaku tersebut tidak normal.

Namun, untuk beberapa alasan, perilaku abnormal sulit didefinisikan. Sebabnya karena, pertama – tama semua orang harus menyepakati tentang apa yang dianggap normal. Standar normal bisa berbeda – beda tergantung pada budaya dan kebiasaan masing – masing.

Ketika kita sedang merasa cemas, depresi atau stress, perilaku kita tentu tidak akan seperti orang lain pada umumnya. Akan tetapi itu bukanlah alasan untuk menyatakan bahwa perilaku kita termasuk abnormal. Tentu saja kita dapat merasakan depresi bila sedang mengalami tekanan dalam hidup.

Contohnya, jika seseorang baru saja mengalami berbagai musibah, tentu saja ia akan merasa stres atau depresi, dan hal tersebut akan termasuk perilaku yang normal. Akan tetapi, jika seseorang merasa depresi dan tertekan atau bahkan panik ketika berada di luar rumah atau berada di tengah orang banyak, maka hal itu merupakan perilaku yang abnormal.

Baca juga : psikologi pendidikan – psikologi sosial

Karakteristik Perilaku Abnormal

Secara singkat, perilaku abnormal adalah perilaku yang dianggap menyimpang dari apa yang diharapkan dan menjadi standar dari perilaku yang normal. Untuk menentukan apakah seseorang menunjukkan perilaku yang abnormal, ada beberapa kriteria yang dapat digunakan:

Pelanggaran Norma Sosial

Perilaku yang berlawanan dengan apa yang dianggap normal oleh masyarakat adalah perilaku yang dapat dikatakan abnormal. Seperti yang sering kita saksikan, budaya mempunyai peran yang besar di dalam norma sosial, seperti juga usia yang menjadi tolok ukur penting. Contohnya, seorang pria dewasa yang berenang tanpa pakaian di depan umum pasti akan dianggap aneh, sementara anak berusia tiga tahun yang melakukan hal sama biasanya akan disebut lucu dan menggemaskan.

Baca juga : psikologi perkembangan – psikologi keluarga

Kejarangan Statistik

Kriteria ini menggunakan suatu pengukuran statistik yang memasukkan semua kriteria atau variabel yang akan diukur ke dalam suatu kurva. Hal yang dianggap jarang atau perilaku yang dianggap menyimpang dari rata – rata akan menjadi suatu yang dianggap abnormal. Akan tetapi, tidak semua hal yang jarang itu akan dapat disebut abnormal juga, contohnya seorang yang memiliki IQ diatas 150 tidak akan disebut abnormal, melainkan jenius.

Personal Distress

Suatu perilaku akan dianggap abnormal jika hal itu mendatangkan kesengsaraan atau penderitaan bagi seseorang. Contoh yang paling sesuai dari kriteria ini adalah kelainan obsesif kompulsif. Dimana kegelisahan akan sesuatu hal mengarah kepada perilaku kompulsif yang bertujuan untuk meredakan kegelisahan tersebut.

Perilaku Maladaptif

Ini adalah kriteria terakhir yang menyatakan bahwa perilaku yang menghasilkan ketidak bahagiaan pada diri seseorang dan bukannya self – fulfillment dapat dikatakan abnormal. Perilaku yang membatasi kemampuan kita untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri juga dapat dikatakan sebagai perilaku yang abnormal. Selain itu, perilaku yang termasuk ke dalam perbuatan yang melukai diri sendiri atau orang lain, juga dapat masuk ke dalam kriteria ini. Misalnya, pecandu alkohol.

Baca juga: psikologi konseling – psikologi agama

Macam – macam Perilaku yang Abnormal

Ada beberapa perilaku yang dianggap abnormal, yang bisa kita golongkan sebagai berikut:

1. Psikopat

Secara harfiah, psikopat artinya sakit jiwa. Asal katanya dari bahasa Yunani Psyche yaitu jiwa dan Pathos, yang artinya penyakit. Seseorang yang menderita kelainan ini sangat pandai berpura – pura dan membuat kamuflase yang rumit demi keuntungan dirinya sendiri.

Contohnya, menyebar fitnah, mengadu domba, memutar balik fakta, dan berbohong demi mendapatkan tujuannya. Disebut juga sebagai sosiopat, psikopat sulit disembuhkan dan dideteksi karena banyak dari penderitanya yang berada di tengah masyarakat daripada yang mendapatkan pengobatan.

Menurut penelitian, sekitar 15-20 persen psikopat merupakan seorang pembunuh, pemerkosa dan perampok. Selebihnya adalah seseorang yang penampilannya sempurna, menyenangkan, dan mempunyai daya tarik yang luar biasa serta pandai bertutur kata.

Baca juga: psikologi kognitif – psikologi forensik

2. Penyimpangan Seksual

Penyimpangan seksual dapat diartikan sebagai dorongan seksual yang ditujukan kepada objek yang tidak lazim, atau pemenuhan kebutuhan seksual dengan cara yang tidak lazim pula dan tidak wajar. Ada dua macam kelainan dari tingkah laku ini yaitu:

a. Kelainan pada Obyek

Ini terjadi apabila cara seseorang untuk memuaskan dorongan seksualnya masih termasuk normal, akan tetapi obyek yang digunakan tidak wajar atau lain dari biasanya:

Homoseksual – Yaitu kelainan untuk melakukan hubungan seks dengan sesama jenis kelamin pria.
Lesbian – Ketertarikan untuk melakukan hubungan seks kepada sesama jenis kelamin wanita.
Biseksual – Ketertarikan untuk melakukan hubungan seks terhadap dua jenis kelamin.
Pedofilia – Orang yang menjadikan anak – anak yang belum akil baligh sebagai obyek seksualnya.
Fetisisme – Apabila objek pemuasan seksualnya adalah benda mati, seperti pakaian dalam, rambut, sepatu, dan benda – benda tertentu lainnya.
Nekrofilia – Menggunakan mayat sebagai obyek pemuasan seksualnya.
Bestiality – Tertarik pada binatang sebagai objek untuk memuaskan kebutuhan seksualnya, disebut juga zoophilia.
Geronto seksualitas – Tertarik pada orang berusia lanjut sebagai objek pemenuhan kebutuhan seksualnya.
Incest – Berpusat pada saudara kandung atau keluarga yang tidak diperbolehkan melakukan pernikahan sebagai objek pemuasan seksualnya.

Baca juga : Cabang – cabang psikologi – Kode Etik Psikologi

b. Kelainan Pada Cara

Pada kriteria ini, yang menjadi objek pemuasan seksual adalah lawan jenis namun dengan cara yang tidak lazim.

Eksibisionisme – Kelainan seksual yang mendapat kepuasan dari memperlihatkan organ kelamin kepada orang lain yang berlawanan jenis yang tidak ingin melihatnya, biasanya dilakukan di tempat umum atau memuaskan diri sendiri (masturbasi) sambil disaksikan orang lain.
Voyeurism – Perilaku seksual yang mendapatkan kepuasan dari menyaksikan secara diam – diam lawan jenis lain yang telanjang, atau mengintip orang sedang berganti baju, atau melakukan hubungan seksual, objeknya adalah orang asing. Orang yang mengidap voyeurisme biasanya membayangkan melakukan hubungan seksual dengan objeknya, namun jarang sekali melakukan kontak fisik.
Masokisme – Masokisme adalah perbuatan yang menyakiti diri sendiri untuk mencapai kepuasan seksual tersebut, baik dilakukan oleh diri sendiri atau orang lain. Ini adalah satu – satunya kelainan seksual yang diderita oleh wanita.
Sadisme   – Ini merupakan pemuasan seksual yang dicapai dengan menyakiti orang lain atau pasangan seksualnya secara fisik atau psikologis.  Pada prakteknya ada orang yang menggabungkan keduanya, menjadi sadomasokisme.
Transvetic Fetisisme – Kelainan berupa seseorang laki – laki yang heteroseksual yang harus menggunakan pakaian wanita untuk mencapai respons seksual. Biasanya gangguan ini dimulai saat remaja dan sebagian kecil pria yang mengalami gangguan ini juga memiliki dysphoria atau ketidak bahagiaan dengan jenis kelaminnya.
Frotteurisme – Kelainan seksual dimana penderitanya mendapatkan kepuasan dengan menyentuh orang lain yang tidak menginginkannya dengan menggosokkan kelaminnya, atau meraba orang lain tanpa diketahui oleh korban.

Baca juga: Teori Belajar dalam Psikologi – Kepribadian Ganda

3. Psikoneurosis

Juga dikenal dengan nama neurosis, ini adalah suatu kondisi gangguan mental yang hanya mempengaruhi sebagian kepribadian sehingga penderitanya masih dapat melakukan aktivitas seperti biasa. Biasanya diekspresikan secara tidak sadar dalam bentuk mekanisme pertahanan diri atau self defense mechanism. Bentuk – bentuk neurosis adalah:

a.Fugue

Asal katanya dari bahasa Latin Fugere yang berarti melarikan diri. Individu yang mengalami fugue bisa saja secara mendadak meninggalkan rumah dan semua yang dikenalnya lalu mengambil identitas baru. Hal ini biasanya terjadi karena seseorang berusaha lari dari kenyataan setelah mengalami tekanan berat. Fugue berbeda dengan amnesia, dan bukan merupakan gangguan kepribadian ganda karena identitas baru tersebut tidak selengkap identitas dalam kepribadian ganda. (Baca juga: Hakikat Manusia dalam Prespektif Psikologi)

b. Somnabulisme

Berasal dari kata somnus yang berarti tidur dan ambulare yang berarti berjalan, definisi dari somnabulisme adalah tidur berjalan. Seperti dalam keadaan trance, penderita tidur sambil berjalan dan melakukan sesuatu hal. Walaupun sekilas hal ini tidak terlihat serius, nyatanya berjalan dalam tidur kerap mendatangkan bahaya bagi penderitanya.

c. Multiple Personality

Sekarang disebut gangguan identitas disosiatif , merupakan kasus psikologi yang lebih rumit dimana penderitanya bisa memiliki dua atau lebih kepribadian di dalam dirinya. Gangguan ini biasanya muncul jika di masa kecil telah mengalami suatu trauma atau tekanan hebat. (Baca juga: Teori Psikologi Kepribadian)

d.Fobia

Rasa takut yang berlebihan terhadap objek atau terhadap sesuatu tanpa bisa dijelaskan, dan tidak jarang menyebabkan stres atau depresi, cemas dan panik yang ekstrem. (Baca juga: Kepribadian Ambivert)

e. Obsesi

Yang dimaksud obsesi adalah ketika seseorang mengalami kecemasan berlebihan terhadap sesuatu dan menunjukkan usaha berlebihan untuk menghilangkan kecemasan tersebut. (Baca juga:

f. Histeria

Suatu bentuk gangguan mental yang timbul dari kecemasan yang intens. Histeria ditandai dengankejadian dimana ada kurangnya kontrol atas kesadaran dan emosi seseorang, lalu tiba – tiba mengalami ledakan emosional.

g. Hipokondria

Hipokondria adalah gangguan psikologi dimana penderitanya merasa mengalami penyakit tertentu walaupun secara medis tidak ada gejala penyakit sama sekali. Penderita hipokondria selalu merasa takut akan terkena penyakit tertentu.

Baca juga:

Teori Psikososial Erikson
Psikologi Islam
4. Psikosis

Psikosis disebut dengan kelainan kepribadian besar karena mempengaruhi seluruh kepribadian seseorang sehingga tidak lagi bisa menjalani kehidupan sehari – hari dengan normal, mengarah kepada keadaan mental yang terganggu oleh delusi atau mengalami halusinasi. Delusi yaitu kesalah pahaman terhadap suatu hal, sedangkan halusinasi adalah melihat atau mendengar suatu peristiwa yang sebenarnya tidak ada. Jenis – jenis psikosis berdasarkan faktor penyebab yaitu:

Psikosis Fungsional

Artinya  yaitu yang ditandai dengan disitegrasi kepribadian serta tidak mampu melakukan kegiatan sosial. Beberapa jenis psikosis fungsional yaitu:

Skizophrenia – Gangguan psikologi berupa kepribadian yang terbelah (split personality) yaitu terjadi ketidak harmonisan antara pikiran, perasaan dan perbuatan.
Paranoid – Mengalami banyak delusi dan ide – ide yang salah tentang berbagai hal dan bersifat menetap.
Manic Depresif – Gangguan emosi yang ekstrim, ditandai dengan berubahnya kegembiraan yang berlebihan (mania) menjadi kesedihan mendalam (depresi) dalam waktu sangat singkat dan juga sebaliknya.

Psikosis Organik

Yaitu penyakit kejiwaan yang penyebabnya merupakan faktor fisik atau organik. Jenis psikosis organik yaitu:

Psikosis alkoholik – psikosis yang terjadi karena terlalu  banyak minum minuman keras.
Psikosis obat – obatan – terjadi karena akibat dari kebiasaan mengonsumsi barang terlarang.
Psikosis Traumatik – Terjadi karena luka pada kepala seperti kena pukul, tembakan, dan lainnya.
Dementia Paralytica – Psikosis yang terjadi karena kerusakan otak yang disebabkan oleh usia tua, penyakit sifilis, dan lain – lain.

Baca juga:

Kecerdasan Emosional dalam Psikologi
Psikologi Agama
Mencegah Perilaku Abnormal

Perilaku abnormal dapat dicegah dengan cara yang tepat, misalnya:

Menghindari konflik batin dari diri sendiri atau juga dari lingkungan.
Selalu berusaha memelihara kebersihan jiwa dengan selalu berpikir positif.
Usahakan untuk selalu bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Latihan untuk menerapkan disiplin dalam segala hal.
Melatih diri sendiri untuk tidak selalu berfikir negatif dan menggunakan pertahanan diri dalam menghadapi masalah.
Mencoba mengatasi setiap kesulitan yang dihadapi dengan usaha yang konkrit dan rasional.

Baca juga:

Konsep Diri Dalam Psikologi
Teori Nativisme

Walaupun demikian, tidak semua perilaku abnormal bisa disembuhkan dengan terapi biasa atau bahkan dengan niat yang kuat saja. Pada beberapa kasus, dibutuhkan bantuan terapis profesional seperti psikolog dan psikiater untuk meluruskan perilaku yang abnormal dari seseorang, terutama pada kasus yang sudah mencapai tingkat berat dan mengkhawatirkan.

ABNORMALABNORMALITASDISORDERGANGGUAN KEPRIBADIANPENYIMPANGAN PERILAKUPSIKOLOGI

Leave a Reply

Your email address will not be published.