TERAPI HUMANISTIK: MANFAAT – CARA KERJA DAN CONTOHNYA

Posted on

Seorang tokoh psikologi, yaitu Carl Rogers pernah mengatakan bahwa setiap orang yang mengetahui tujuan hidupnya dan merasa senang akan hal itu, tetapi jika seseorang merasa kebingungan terhadap tujuan hidupnya dan sampai mempertanyakan hal ini kepada orang lain, orang tersebut dalam kondisi yang buruk (Ediati, dkk., 2020).

Oleh karena itu, beliau kemudian mengembangkan Psikologi Humanistik, utamanya dalam suatu teknik terapi yang bernama terapi humanistik. Berikut merupakan penjelasan lebih lanjut mengenai pengertian, manfaat, cara kerja, serta contoh terapi humanistik:

Pengertian Terapi Humanistik

Dainuri (2014) mengatakan bahwa terapi humanistik merupakan bentuk terapi yang tekniknya disesuaikan dengan kondisi klien untuk membantunya mengatasi permasalahan dalam diri sebab berkaitan dengan eksistensi serta keputusan dan tanggung jawab atas dirinya sendiri di dunia.

Dalam kamus psikologi milik Kartini Kartono, terapi humanistik diartikan sebagai suatu psikoterapi dengan fokus utamanya adalah pengalaman subjektif individu itu sendiri, keinginannya, serta kemampuannya dalam memilih tujuan hidup.

Tidak jauh berbeda dari pengertian menurut Wingkel, terapi humanistik ialah konseling dengan berdasarkan pada falsafah hidup individu dalam memaknai kehidupannya di bumi, seperti pada arah hidup, pilihan hidup, serta tanggung jawab terhadap pilihannya tersebut.

Manfaat Terapi Humanistik

Terapi humanistik memiliki berbagai manfaat yang sudah terbukti membantu orang-orang dengan kondisi tertentu yang mengganggu, terutama yang berkaitan dengan ketidakpastian makna hidup serta hambatan dalam mencapai aktualisasi diri. Berikut adalah beberapa manfaat dari terapi humanistik, di antaranya:

Menyadarkan individu mengenai kondisinya atau apa yang sedang ia rasakan saat ini dan disini, daripada melihat masa lalu dan mengidentifikasi situasi yang mungkin berpengaruh pada kondisi sekarang.
Mengembalikan kondisi individu menjadi kongruen seperti sedia kala dan dapat kembali berfungsi secara penuh (fully functioning person).
Membawa individu melihat kembali masa awal kehidupan sebelum terjadi peristiwa-peristiwa sebagai bentuk penyadaran mengenai kondisi yang benar untuk mencari jalan keluar dari permasalahannya.
Membantu individu menemukan kembali kepercayaan dirinya yang menyebabkan hilangnya makna hidup.
Mengatasi gangguan psikologis, seperti depresi, kecemasan, gangguan panik, gangguan kepribadian, skizofrenia, adiksi, serta masalah dalam hubungan.
Cara Kerja Terapi Humanistik

Ilmu psikologi awalnya kebanyakan berkembang di barat dengan konsep deterministik, di mana perilaku atau proses mental manusia cenderung dapat ditentukan oleh hal-hal di luar dirinya. Akan tetapi, pada tahun 1950-an, muncul satu aliran baru dalam ilmu psikologi yang dinamakan Humanistik.

Humanistik menggunakan sudut pandang yang berbeda dalam melihat manusia. Berbagai usaha yang dilakukan oleh manusia ditujukan untuk aktualisasi dirinya atau suatu konsep pencapaian yang ingin dimiliki manusia dan setiap orang pasti memiliki aktualisasi yang berbeda-beda.

Akan tetapi, tidak semua orang mampu mencapai aktualisasi dengan baik, gangguan-gangguan yang dirasakan dapat menghambat proses pencapaian aktualisasi diri sehingga dapat mengakibatkan masalah pada kondisi psikologisnya. Pun jika seseorang berhasil mencapai aktualisasi diri, kesehatan mentalnya juga masih dapat terganggu Ediati, dkk., (2020).

Oleh karena itu, terapi humanistik yang teori dasarnya diberikan oleh Abraham Maslow dan konsep terapinya dikembangkan oleh Rogers berusaha membantu orang-orang yang terkendala ketika menuju aktualisasi diri agar dapat kembali menemukan jalannya dari berbagai macam jalur, seperti upaya kreatif, pencerahan spiritual, pengejaran kebijaksanaan, atau altruisme.

Contoh Penerapan Terapi Humanistik

Salah satu cabang dari terapi humanistik yang terkenal adalah client centered theory atau saat ini lebih umum disebut person centered theory yang dikembangkan oleh Carl Rogers sebagai bentuk aplikasi dari Teori Psikologi Humanistik.

Menurut Ediati (2020), terapi ini adalah terapi yang menekankan pada perilaku klien dengan dunianya yang bersifat subjektif dan fenomenal. Hal tersebut berarti, terapi humanistik memandang setiap manusia berbeda satu sama lain dan tidak dapat selalu digeneralisasikan sehingga perlu intervensi yang berbeda sesuai dengan dirinya sendiri.

Hal yang penting dalam pelaksanaan terapi humanistik adalah membangun hubungan antara terapis dengan klien sebab selama keberjalanan terapi, klienlah yang menentukan arah terapi ini dan terapis hanya mengikuti saja. Dengan demikian, klien harus bisa mempercayai terapisnya.

Kemudian, terapis akan memberikan arahan atau petunjuk mengenai terapi. Penting bagi klien untuk memahami bahwa selama proses terapi, ia harus benar-benar sadar mengenai situasi saat ini dan di sini sebab terapi ini memang tidak memiliki fokus pada pengalaman masa lalu seperti psikoanalisis misalnya.

Setelah sesi terapi, terapis akan memberikan ringkasan dan semangat dengan kata-kata yang diharapkan secara tidak langsung dapat menyadarkan klien dan membantunya. Ditegaskan kembali pula mengenai keputusan-keputusan yang diambil serta penawaran untuk melakukan terapi kembali jika gejala gangguan kembali muncul.

Kesimpulan Pembahasan

Kesimpulannya, terapi humanistik adalah salah satu teknik psikoterapi yang berpusat pada kondisi subjektif seseorang dan berkaitan dengan bagaimana orang tersebut mencapai aktualisasi atau tujuan hidupnya. Diharapkan melalui terapi ini klien dapat mencapai keberfungsiannya kembali dan terlepas dari gangguan yang sebelumnya dirasakan.

Terapi ini muncul sebagai bentuk kesadaran yang dimulai oleh Maslow dan Rogers terkait pentingnya aktualisasi diri dan pemaknaan dalam hidup. Namun, kenyataannya banyak orang yang merasakan hambatan untuk mencapai kedua hal tersebut sehingga muncul gangguan dan perlu dibantu untuk kembali menemukan jalannya lagi.

Di antara berbagai jenis terapi humanistik, person centered theory adalah salah satunya. Pada terapi ini, klien dibebaskan untuk menceritakan apa saja hal yang ia rasakan tanpa ada arah konseling dari terapis selama prosesnya. Terapis akan menganalisis kondisi klien dari apa yang diceritakannya dan mengarahkan klien untuk menemukan sendiri pemecahan masalahnya.

PSIKOLOGI KLINISPSIKOTERAPITERAPI HUMANISTIK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *