5 PERBEDAAN TANTRUM DAN MELTDOWN BESERTA PENJELASANNYA

Posted on

Setiap orang tentu saja memiliki segala jenis emosi seperti, bahagia, kesal, marah, dan takut. Nah, segala jenis emosi itu lebih mudah diperlihatkan oleh anak-anak. Emosinya yang masih belum stabil membuat mereka mudah meluapkan emosi yang menunjukkan perasaannya saat itu. Misalnya saja anak akan menunjukkan kekesalannya apabila permintaan mereka tidak di turuti. Tentu saja emosi anak yang seperti itu tidak baik untuk perkembangan emosionalnya. Oleh sebab itu, sebagai orang tua, sudah seharusnya Anda mengajarkan anak Anda bagaimana caranya memahami dan mengendalikan emosi mereka.

Nah, salah satu perkembangan emosi tersebut, yang biasanya pertama kali dialami oleh anak adalah tantrum dan meltdown. Diantara kedua emosi tersebut, tidak jarang orang-orang beranggapan bahwa kedua emosi tersebut adalah sama. Sekilas, antara tantrum dan meltdown mungkin memang terlihat sama. Akan tetapi, keduanya memiliki pengertian yang berbeda. Jika tantrum merupakan luapan emosi yang dikeluarkan anak apabila menginginkan sesuatu dengan menangis, mengamuk, merengek, atau memukul. Sedangkan meltdown sendiri merupakan reaksi atas suatu dorongan yang dilakukan oleh anak ketika mereka sudah kewalahan dengan perasaannya sendiri yang dirasa sudah berlebihan.

Jadi, walaupun sekilas memang terlihat mirip, keduanya memiliki perbedaan yang dapat kita ketahui. Apa saja sih? Berikut ini penjelasan mengenai perbedaan tantrum dan meltdown.

1. Tantrum merupakan luapan emosi anak kepada orang disekitarnya apabila keinginannya tidak dipenuhi

Sebenarnya, tantrum itu merupakan luapan dari perasaan marah yang dirasakan oleh anak. Emosi tersebut terjadi karena apa yang diinginkan oleh anak tidak terpenuhi. Biasanya, tantrum terjadi pada anak usia balita, yang mana mereka belum mampu untuk mengendalikan berbagai macam emosi dalam dirinya. Dan juga, adanya keterbatasan komunikasi diantara balita dengan orang dewasa membuat mereka jadi mudah menunjukkan emosinya dengan tantrum. Mereka akan menangis, mengamuk, berteriak, atau memukul agar bisa mendapat perhatian dari orang disekitarnya, dan pada akhirnya mereka akan berhenti melakukan hal tersebut apabila keinginannya sudah terpenuhi. Di masa-masa seperti ini anak pun sebenarnya pasti merasa kesal sebab mereka tidak bisa mengutarakan apa yang ingin mereka katakan, dan bagaimana caranya agar orang tua dapat mengerti keinginan mereka. Sebab kekesalan itulah mereka akan mengandalkan emosinya agar mendapat perhatian orang tuanya.

Nah, karena kendalanya ada pada keterbatasan komunikasi antara balita dengan orang dewasa, maka tantrum ini akan mulai membaik dan mereda apabila anak sudah mulai lancar berbicara. Dengan mereka yang sudah pandai berbicara, maka kemungkinan mereka tantrum akan sangat kecil, sebab orang tua sudah paham apa keinginan anak.

2. Meltdown merupakan reaksi yang diberikan anak ketika mereka sudah kewalahan dengan perasaannya

Meltdown merupakan luapan emosi yang ditunjukkan anak karena mereka sudah merasa lelah dan kewalahan dengan segala perasaan yang mereka anggap sudah berlebihan. Jika tantrum mengetahui sebab mereka melakukan hal itu, maka berbeda dengan meltdown. Anak yang sedang mengalami meltdown tidak mengetahui sebab dirinya meluapkan emosi. Karena yang mereka tahu, mereka sudah lelah dan tidak tahan dengan hal-hal disekitarnya, dan akhirnya mereka melampiaskan segala emosi mereka dengan berteriak, marah, atau menangis. Lalu, apabila anak tantrum masih dapat dibujuk, maka lain lagi dengan anak yang sedang mengalami meltdown, rasanya segala bujukan orang tuanya pun tidak akan berpengaruh, sebab anak pun tidak tahu apa penyebab pasti kesal dan marah sampai terjadi meltdown.

Akan tetapi biasanya, meltdown bisa terjadi hanya dengan anak yang mungkin mendengar sesuatu yang sangat bising sampai menganggu pikirannya, atau anak melihat sesuatu yang tidak disukainya ada disekitarnya. Mungkin masih ada lagi pemicu yang menyebabkan anak tiba-tiba menjadi meltdown, akan tetapi kebingungan mereka juga membuat orang disekitarnya ikut kebingungan dengan apa yang sebenarnya membuat anak mereka jadi emosi.

3. Anak yang mengalami tantrum bisa saja berlanjut kearah meltdown

Emosi yang dikeluarkan anak yang sedang tantrum bisa saja berlanjut menjadi emosi meltdown. Hal itu terjadi sebab anak sudah merasa lelah untuk membuat orang tua mengerti apa maksud yang diucapkan oleh anak, dan apa yang diinginkan oleh anak. Kelelahan akibat luapan emosi yang dikeluarkan oleh anak secara berlebihan dapat membuatnya berlanjut ke arah meltdown, anak tidak lagi dapat menjelaskan dan mengungkapkan apa yang mereka mau sebab sudah terlalu lelah dengan luapan emosi mereka yang dikeluarkan berlebihan.

Menurut Profesor Psikologi dari University British of Columbia, Amori Mikami mengatakan bahwa ada baiknya orang tua untuk belajar bagaimana caranya memahami perasaan dan emosi anak, serta membuat strategi dengan memerhatikan anak yang sedang tantrum sebelum berlanjut ke arah yang lebih parah yaitu meltdown. Sebab tantrum lebih mudah untuk ditangani daripada meltdown. Yang membuatnya sulit ditangani biasanya karena ketika anak dalah keadaan tantrum, mereka masih bisa diajak berkomunikasi meski adanya keterbatasan komunikasi diantara anak dengan orang tua. Sedangkan apabila anak sudah mengalami meltdown, biasanya mereka akan susah untuk diajak berbicara, berkompromi, tidak mau mendengarkan siapapun juga, dan hanya ingin menangis atau melampiaskan segala kekesalannya saja.

Anak juga akan berhenti dari tantrum apabila keinginannya sudah terpenuhi, akan tetapi jika akan sudah mengalami meltdown, anak hanya akan berakhir dengan tertidur akibat kelelahan berteriak atau menangis, dan akan tenang setelah terbangun dari tidurnya.

4. Cara mengatasi anak yang tantrum biasanya dengan memberikan apa yang mereka mau atau memberi penegasan kepada mereka

Setiap anak atau orang tua pasti memiliki cara yang berbeda-beda dalam meredakan anak mereka yang sedang tantrum. Dan biasanya untuk membuat anaknya berhenti mengamuk adalah dengan menuruti keinginan anak, karena orang tua pasti langsung sadar bahwa anak mereka akan senang dan tidak lagi mengamuk apabila keinginannya sudah terpenuhi. Akan tetapi, ada juga orang tua yang melalukan cara yang tegas kepada anaknya agar berhenti tantrum, karena tahu bahwa selalu menuruti segala keinginan anak bukanlah hal yang baik. Orang tua akan memberi penegasan kepada anak bahwa ada hal yang tidak selamanya harus dibeli atau dituruti. Lama-lama anak akan paham bahwa tidak semua yang ia inginkan bisa ia dapatkan.

Akan tetapi, saat memberi penegasan kepada mereka orang tua harus tetap menjelaskan dengan penuh kasih sayang dan perhatian, jangan menjelaskan kepada mereka dengan nada marah atau membentak. Dengan begitu, anak akan merasa bahwa orang tuanya selalu memerhatikan mereka.

5. Saat mengatasi anak yang meltdown, orang tua harus memahami apa penyebab emosi anak, dan bantu mereka keluar dari hal yang membuat anak emosi

Anak yang sedang mengalami meltdown biasanya tidak menyukai kebisingan dan keramaian atau hal-hal lain yang dirasa membuatnya terganggu dan risih. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya membawa anak menjauh dari keramaian dan kebisingan yang sedang terjadi disekitarnya agar anak tidak mengalami meltdown lebih parah. Anda tidak perlu menanyakan apapun padanya, cukup bawa mereka ke tempat sepi dan memenangkan serta peluk mereka dengan penuh kasih sayang untuk menunjukkan bahwa Anda selalu ada untuknya. Yang terpenting meredakan anak yang meltdown adalah dengan membuat mereka tenang lebih dulu.

Itulah 5 perbedaan yang sangat jelas antara tantrum dan meltdown. Semoga Anda sebagai orang tua dapat memahami dan mengerti perbedaan diantara keduanya, sebab dengan mengetahui perbedaan tersebut akan lebih memudahkan Anda dalam mengatasi luapan atau dorongan emosi yang ditunjukkan anak Anda. Dan semoga artikel ini membuat Anda tidak lagi keliru memahami tantrum dan meltdown.

GANGGUAN PSIKOLOGIMELTDOWNTANTRUM

Leave a Reply

Your email address will not be published.