13 HAL YANG TERJADI PADA TUBUH SAAT PATAH HATI

Posted on

Putus cinta atau perceraian adalah hal yang jadi sumber utama patah hati. Rasanya pasti campur aduk setelah mengalaminya, tapi ternyata secara psiklogis kondisi ini bisa dijelaskan lebih detail lho. Berikut ini adalah 13 Hal yang Terjadi Pada Tubuh Saat Patah Hati. Ayo bangkit dan move on ya. Stay positive and be happy!

1. Imunitas menurun dan jatuh sakit

Sakit flu atau masalah saluran pencernaan bisa terjadi saat orang patah hati. Saat mengalami perpisahan, tubuh mengalami stres akut sehingga bisa memiliki efek merugikan. “Ketika tubuh mengalami stres, ini meningkatkan produksi kortisol untuk mendukung respons ‘fight or flight’. Baca juga mengenai : cara mengatasi patah hati menurut psikologi

Sistem kekebalan tubuh yang menurun ini sering ditambah dengan kurangnya nafsu makan dan menghasilkan tubuh yang sangat rentan terhadap banyak virus yang terpapar seseorang yang sedang patah hati. Baca juga mengenai : cara menghilangkan depresi akibat patah hati

2. Rasa sakit pada fisik

Banyak orang mengeluhkan sakit fisik yang sebenarnya saat mengalami patah hati. Mulai dari nyeri dada, sakit perut atau merasa seperti jantung Anda benar benar sakit, semua ini mungkin timbul karena patah hati.  Baca juga mengenai : cara menghilangkan trauma karena sakit hati

Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa rasa sakit ini nyata. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Prosiding National Academy of Sciences menemukan bahwa penolakan mengaktifkan daerah otak yang sama yang merespons rasa sakit fisik. Baca juga mengenai : cara agar tidak overthinking menurut psikologi

3. Kecemasan

Gejala umum dari patah hati adalah rasa cemas. Pengaktifan respons “flight or fight” tubuh Anda menghasilkan metabolisme yang lebih cepat dan peningkatan denyut jantung, yang dapat menyebabkan rasa goyah dan cemas.  Baca juga mengenai : cara menghilangkan depresi karena putus cinta

Gejala lainnya yang umum terjadi setelah mengalami perpisahan meliputi ketegangan otot, sakit kepala, berkeringat, mual, atau brain fog. Terlebih memang seseorang tersebut sudah mengalami gangguan kecemasan sebelumnya, gejala ini bisa semakin terasa.

4. Insomnia

Sulit tidur juga sering menimpa orang yang patah hati. Pikiran yang kalut dikombinasikan dengan kecemasan adalah penyebab insomnia yang timbul. Kebanyakan orang akan mengalami masalah tidur selama beberapa minggu pertama setelah perpisahan saat mereka menyesuaikan diri terhadap perubahan. Jangan segan berkonsultasi dengan dokter untuk membantu mengatasi masalah insomnia yang sedang Anda alami.

5. Risiko serangan jantung meningkat

Patah hati bisa membuat kontraksi jantung jadi abnormal dan menurut penelitian yang dipublikasi di New England Journal of Medicine, pemicunya adalah rasa stres dan depresi berat. Orang yang mengalami keluhan ini berisiko 9,9 persen alami serangan jantung dan peningkatan 5,5 persen terhadap risiko kematian.

Studi terhadap 1.750 pasien yang terdaftar di International Takotsubo Registry menemukan sindrom wanita lebih rentan 9 kali lipat alami sindrom. Gejala yang muncul seringnya mirip dengan penyakit jantung koroner seperti nyeri dan sesak di bagian dada, seperti ditulis New England Journal of Medicine.

6. Otak mengirimkan sinyal rasa sakit dan rasa rindu yang nyata

Galau dan kangen ternyata tidak hanya sebatas gombalan. Studi tahun 2010 yang dimuat dalam Journal of Neurophysiology menyatakan, saat Anda dipaksa untuk berpisah setelah menghabiskan sebagian hidup Anda terbiasa dengan kehadiran seseorang yang Anda cintai, otak akan mengirimkan sinyal rasa sakit ke sekujur tubuh dan menimbulkan berbagai gejala withdrawal serius, layaknya orang sakaw.

Sakit kepala mencengkeram, tidak nafsu makan, susah tidur, dan “mata panda” yang Anda alami akibat putus cinta bisa dibuktikan secara ilmiah. Hal ini disebabkan oleh penurunan kadar dopamine dan oxytocin, senyawa kimiawi yang membuat bahagia, tergantikan oleh kadar kortisol (hormon stress) yang melejit. Persis dengan gejala fisik akibat putus obat yang dialami oleh pengguna kokain.

7. Tubuh Anda membangun respon fight or flight

Saat terancam, otomatis Anda akan melakukan berbagai macam cara demi bertahan hidup. Respon fight or flight merujuk pada reaksi fisiologis yang timbul akibat suatu pemicu stres, baik secara mental maupun fisik.

Sebagai respon stres, sistem saraf simpatetik dalam otak akan diaktifkan akibat pelepasan sejumlah hormon secara tiba tiba. Sistem saraf akan menstimulasi kelenjar adrenalin yang memicu produksi catecholamine guna menyiagakan tubuh Anda untuk mengambil tindakan.

8. Jerawatan dan rambut rontok

Lagi lagi karena hormon. Sebuah studi tahun 2007 yang dimuat dalam The New York Post berhasil mengesampingkan faktor faktor penyebab umum jerawat (seperti polusi, dengan memelajari penduduk Singapura di mana perubahan iklim amat jarang terjadi)

dan memastikan bahwa stres benar benar dapat mengakibatkan peradangan jerawat. Peneliti mengatakan, sebesar 23% kasus peradangan jerawat muncul saat orang orang berada di bawah tekanan stress yang sangat tinggi, seperti saat sedang patah hati.

9. Tekanan darah tinggi

Menurut American Heart Association, tekanan darah dapat meningkat sementara saat Anda dilanda stres, namun stres semata belum dapat dipastikan sebagai penyebab penyakit darah tinggi kronis. Jadi, tidak perlu (tambah) khawatir soal ini.

Akan tetapi, seseorang yang memiliki riwayat darah tinggi dan dilanda stres perlu berhati hati. Peningkatan tekanan darah dalam waktu singkat bagi orang orang dengan kondisi ini akan mendorong terjadinya krisis hipertensif, yang menyebabkan gejala seperti sakit kepala, kesulitan bernapas, bahkan hingga mimisan.

10. Sindrom patah hati

American Heart Association menjelaskan bahwa ketika di bawah stres berat (seperti saat patah hati), terkadang sebagian jantung Anda akan membesar sementara dan tidak dapat memompa darah dengan baik. Sementara fungsi bagian jantung lainnya bekerja dengan sangat baik,

bahkan bisa berkontraksi dengan sangat kuat. Kondisi ini bisa menyebabkan gagal otot jantung jangka pendek yang parah. Teknisnya, kondisi ini disebut sebagai kardiomiopati induksi stres, namun labih sering disebut sebagai “sindrom patah hati”.

11. Meningkatnya aktivitas otak yang mencatat rasa nyeri fisik

Telah beberapa kali disebut, rasa sakit secara emosional pada manusia terutama saat patah hati ternyata sama dengan rasa sakit atau nyeri fisik yang parah. Hal ini diperkuat dengan penelitian menggunakan pemindaian fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging) yang mendeteksi perubahan aktifitas otak yang berkaitan dengan aliran darah.

Hasilnya, pada orang orang yang baru putus cinta ditemukan peningkatan aktifitas otak terutama pada bagian anterior cingulate cortex, yaitu bagian yang bekerja terutama pada saat kita mengalami sakit fisik. Wah wah, sampai segitunya efek patah hati!

12. Peningkatan produksi hormon stres

Peningkatan aktifitas pada anterior cingulate cortex selanjutnya memicu pelepasan hormon kortisol dan adrenalin berlebih, yang tidak hanya menyebabkan stres, namun juga menimbulkan perasaan cemas dan depresi. Pada level yang serius, pelepasan hormon hormon di atas dapat memunculkan gejala sakit fisik antara lain kesulitan bernafas dan juga mual.

13. Terjadi perang antar bagian otak satu dengan yang lain

Penelitian menemukan bahwa ketika sedang patah hati, banyak bagian otak yang cenderung tertantang dan bekerja secara signifikan untuk segera menemukan pemecahan masalah patah hati tersebut.

Misalnya, pada bagian korteks depan orbital bekerja untuk mengendalikan emosi serta pembelajaran dari masa lalu. Kebalikannya, di bagian otak yang lain mungkin berusaha memicu untuk melakukan hal hal ekstrem seperti meratapi diri secara berlebihan, atau melampiaskan emosi dengan jalan negatif.

Demikian yang dapat penulis sampaikan, sampai jumpa di artikel berikutnya, terima kasih.

DEPRESIGANGGUAN PSIKOLOGIPATAH HATISTRESTRAUMATUBUH

Leave a Reply

Your email address will not be published.