2 DAMPAK PERCERAIAN TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK YANG PERLU DIHINDARI

Posted on

Pernikahan adalah titik awal kehidupan baru bagi sepasang pria dan wanita yang berkomitmen untuk menjalin hubungan rumah tangga bersama. Tujuan dari pernikahan ini beragam bagi setiap pasangan, tetapi alangkah baiknya menikah dengan niat ingin menyempurnakan hidup, saling mengasihi dan membantu, serta berkembang bersama dengan keluarga.

Anak merupakan titipan Tuhan kepada pasangan yang sudah menikah dan orangtua memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan serta pemenuhan kebutuhan sang anak. Hubungan yang harmonis juga merupakan kebutuhan anak yang harus dipenuhi. Namun, terkadang sulit untuk mempertahankan hubungan dengan pasangan seiring berjalannya waktu.

Ketidakcocokan tersebut dapat berakhir pada perceraian. Hal ini bukan saja permasalahan bagi pasangan yang bercerai, tetapi juga berpengaruh terhadap anak yang dimiliki. Ketika perceraian terjadi, orangtua tetap wajib untuk memberikan kasih sayang serta segala kebutuhan anak untuk tumbuh kembangnya.

Meskipun demikian, perceraian tetap memiliki berbagai dampak bagi anak. Berikut adalah dampak perceraian terhadap perkembangan anak, dilihat dari aspek emosi dan sosial (Widiastuti, 2015):

1. Terhadap Perkembangan Sosial
Kurang mampu menjalin hubungan dengan orang lain
Anak yang orangtuanya bercerai bisa saja mengalami kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain. Apa yang terjadi pada orang tua anak tersebut dianggap dapat juga terjadi pada dirinya suatu saat sehingga ia lebih memilih sendiri. Ketika berada dalam hubungan pun, sering kali ada hal yang membuatnya kurang mampu berkomunikasi dengan baik
Terpengaruh untuk melakukan hal negatif
Berpisahnya orangtua akan membuat anak ikut ke salah satu orangtuanya. Namun, terkadang ia justru harus hidup sendiri atau dititipkan kepada keluarga yang lain karena orangtuanya harus bekerja. Kondisi ini dapat membuat anak mengikuti pergaulan yang kurang baik sehingga terjerumus pada perbuatan negatif.
Mudah bertengkar
Perceraian yang terjadi mungkin didahului oleh serangkaian konflik yang dilihat atau didengar oleh anak. Peristiwa ini dapat mempengaruhi pola pikir anak bahwa cara untuk menyelesaikan segala masalah adalah pertengkaran. Anak tidak mengetahui bahwa sebenarnya ada cara yang lebih baik untuk menghadapi konflik.
Tidak patuh pada perintah
Orangtua sering merasa anaknya tidak mau patuh jika diberi perintah, padahal anak pasti punya alasan mengapa ia menjadi seperti itu. Kurangnya komunikasi dari hati ke hati pada orangtua yang bercerai membuat anak memikirkan sendiri bagaimana hidupnya dan ia akan hidup dengan caranya tersebut.
Lebih berhati-hati terhadap orang lain
Dampak sosial yang dapat muncul jika anak mampu mengatasi keadaannya adalah ia dapat belajar untuk lebih berhati-hati. Apabila anak tersebut tidak ingin mengalami kegagalan yang sama, maka ia harus berusaha hidup dengan baik dan melindungi dirinya dari orang yang berpotensi merusak hidupnya.
2. Terhadap Perkembangan Emosi
Rasa rendah diri serta malu
Kondisi keluarga yang sudah tidak sempurna lagi seperti teman-teman sebayanya dapat membuat anak merasa rendah diri dan malu. Wiyani (2014) mengatakan bahwa kesalahan pola asuh dapat menimbulkan rasa rendah diri. Selain itu, stigma negatif terhadap anak yang “broken home” juga membuat anak semakin rendah diri.
Stres dan kecemasan
Anak yang menjadi korban ketidakharmonisan orang tuanya pasti akan merasa sedih. Kesedihan yang mendalam ini berpotensi menjadi penyebab stres apabila anak tidak tahu harus mengekspresikan kesedihannya dengan apa. Kemudian, kecemasan juga dapat muncul karena kekhawatiran akan masa depannya.
Kurangnya rasa puas terhadap kasih sayang yang diterima
Karen Horney berpendapat bahwa sumber masalah yang paling mengganggu adalah relasi antara anak dan orangtua (Alwisol, 2018). Orangtua yang tidak memberi kebutuhan dan kasih sayang pada anak dengan konsisten dapat menyebabkan basic anxiety dan menumbuhkan basic hostility (Hergenhahn & Henley, 2014).
Sikap yang agresif
Anak yang kehilangan orangtuanya terlalu dini menyebabkan ia menjadi sensitif dan mudah tersinggung. Hal ini dapat menyebabkan munculnya sikap agresif sehingga anak melampiaskan emosinya dengan kemarahan (Nugraha & Rachmawati, 2014).
Munculnya trauma
Perceraian pada orangtua dapat menjadi pemicu trauma pada anak. Trauma ini disebabkan oleh peristiwa yang menyebabkan rasa takut yang berlebihan (Novita, 2007). Hal tersebut dapat berpengaruh pada anak jika ia mengalami gangguan stres pascatrauma atau post traumatic stress disorder (PTSD).
PERKEMBANGAN ANAKPSIKOLOGI ANAK

Leave a Reply

Your email address will not be published.