TEORI BAWAAN MANUSIA DALAM PSIKOLOGI ANTROPOLOGI

Posted on

Antropologi Psikologi (Psycological Anthropology) adalah subdisiplin ilmu dari kajian antropologi.

Ilmu antropologi psikologi sendiri merupakan ilmu yang menjembatani antara kebudayaan serta kepribadian, dimana yang menjadi fokus dari dua ilmu ini yang berbeda (antropologi dan psikologi), sebenarnya hubungan keduanya sangat erat, dimana  hubungannya.Antropologi dan psikologi merupakan subdisiplin dari ilmu antropologi artinya keduanya memiliki hubungan yang sangat jelas dan spesifik.

Dalam subdisiplin ilmu antropologi ini, nama baru dari ilmu yang lebih dahulu dikenal dengan dengan nama Culture dan Personality (kebudayaan dan kepribadian), atau kadang juga disebut Ethno-psychology (psikologi suku bangsa). Baca juga  Hubungan Psikologi dengan Arsitektur

Subdisiplin ini sejak lahirnya sudah bersifat antardisiplin. Subdisiplin ilmu antropologi btelah lama menjadi salah satu bidang ilmu yang paling banyak diminati dan dilirik untuk dipelajari.

Hal ini disebabkan karena teori, konsep, serta metode penelitiannya dipinjam dari campura berbagai disiplin ilmu seperti antropologi, psikologi, psikiatri, dan psikoanalisa; selain itu juga para pendirinya berasal dari disiplin ilmu yang bermacam-macam, jauh sebelum mereka menjadi ahli antropologi.

Adapun para ahli tersebut antara lain adalah Margaret Mead (ahli antropologi), Abram Kardiner (ahli psikiatri), W.H.R. River (ahli psikologi), Erik H. Erikson (ahli psikoanalisa neo freudian), dan masih banyak yang lainnya. Hubungan Psikologi dengan Biologi

Dari tokoh-tokoh yang berasal dari berbagai disiplin ilmu ini menjelaskan bahwa di sanalah twrdapat hubungan antara ilmu antropologi budaya dan sosial  dengan ilmu psikologi kepribadian, psikologi perkembangan, ilmu psikiatri, dan psikoanalisa secara sangat akrab dan produktif.

Adapun Ciri dari penelitian antropologi psikologi adalah menekankan pada perhatiannya dan perbedaan pada kelompok-kelompok alami (natural groups), serta perbedaan individu dan perbedaan kolektif yang sengaja dibentuk untuk kepentingan penelitian (experimentally produced group).

Dalam antropologi psikologi, terdapat tiga mazhab teori yang membaginya kedalam kelompok yaitu :

Pembawaan manusia (human nature), Kepribadian khas kolektif tertentu (typi-personality); dan kepribadian individu (individual personality) sebagimana juga dalam teori citra dalam komunikasi perusahaan . Kemudiandari yiga teori ini berkembang dengan teori-teorinya sendiri yang kemudian dikembangkan oleh para penganutnya.

Selnjutnya untuk memahami lebih jauh beikut akan dibahas mengenai Teori Bawaan Manusia Dalam Psikologi Antropologi.

Teori Bawaan Manusia Dalam Psikologi Antropologi

Dalam mazhab teori pembawaan manusia antara lain didukung oleh teori mengenal seksualitas kanak-kanak Sigmund Freud dan teori gejala masalah akil balig dari Margaret Mead.

Menurut Sigmund Freud terdapat dua hipotesa dasar dalam psikoanalisa yaitu memgenai teori seksualitas kanak-kanak dan teori kompleks Oedipus (Oedipus Complex).

Menurutnya manusia memiliki dua macam dorongan vital (vital drive) yaitu dorongan Untuk melindungi diri (the drive of self preservation) serta dorongan untuk berkembang biak (the drive toward procreation), yaitu dorongan untuk memelihara kelangsungan hidup dari jenis manusia.

Freud lebih tertarik pada dorongan kedua yaitu dorongan untuk berkembang biak, dimana yang ia sebut dengan libido. Baca juga Hubungan Logika dengan Psikologi dan Metafisika

Dorongan ini kerap kali dihambat oleh hal-hal yang dapat bersifat social budaya manusia. Yang kemudian membuatnya  membagi daerah libido menjadi tiga zona yakni daerah erotik (erotic zone) yaitu mulut, anal, dan genital seperti juga pada teori aus dalam komunikasi interpersonal .

Seorang anak biasnaya akan menaruh perhatian khusus terhadap daerah erotik ini terjadi secara bertahap, yakni tahap oral, tahap anal, dan tahap genital.

Perkembangan tahap libido ini ditentukan aspek oleh biologis,  namun harus diakui juga bahwa pada perkembangan tersebut, anak dipengaruhi oleh reaksi tokoh-tokoh penting disekitarnya, melalui cara pengasuhan dari orang tuanya dalam psikologi komunikasi .

Sedangkan Oedipus Complex, dalam aliran psikoanalisis yang diutarakan Sigmund Freud merujuk pada suatu tahapan perkembangan psikoseksual di masa anak-anak saat anak dari jenis kelamin laki – laki menganggap ayah mereka sebagai musuh dan saingan dalam meraih cinta yang eksklusif dari ibunya.

Para penderita Oedipus Complex pada saat masa kecilnya berusaha untuk menahan hasrat seksualnya terhadap sang ibu dan perasaan cemburu terhadap sang ayah. Akibatnya anak tersebut akan memiliki perasaan bersalah yang berlebihan sehingga akan mengalami konflik emosional sampai ia dewasa sebagimana pengertian komunikasi menurut para ahli .

Oedipus kompleks  disebabkan olek faktor kejiwaan yang didapatkan sejak dari masa kecil, seperti terlalu dekat atau terlalu dilindungi oleh ibunya.

Sehingga yang dimaksud dengan  Sindrom Oedipus Complex di sini merupakan pengaruh lanjutan yang di timbulkan dari konflik emosional yang dialaminya dari masa kecil terhadap ibunya dan membawa pengaruh yang berkepanjangan dalam kehidupannya sampai ia nantinya  menjadi dewasa. Baca juga Hubungan Psikologi Sdm dengan Globalisasi

Konsep Teori Bawaan Manusia

Di dalam kajian ilmu Psikologi terdapat tiga aliran yang mempengaruhi perkembangan seseorang, yaitu :

Aliran Nativisme

Aliran ini  dipelopori oleh Arthur Schopenhauer (1788-1860), dimana menurut pandangannya bahwa peranan sifat bawaan dan keturunan merupakan penentu perkembangan tingkah laku, persepsi tentang ruang dan waktu tergantung terhadap faktor alamiah yang merupakan pembawaan dari lahir, asumsi yang mendasari aliran ini adalah bahwa pada diri anak dan orangtua terdapat banyak kesamaan baik fisik maupun psikis. Aliran ini lebih dipandang sebagai aliran pesimisti dan deterministik.

Aliran Empirisme

Teori ini dipelopori John Locke (1632-1704) ia menitik beratkan pandangannya pada peranan lingkungan sebagai penentu perkembangan tingkah laku manusia, asumsi psikologis ialah bahwa manusia terlahir dalam kondisi tidak memiliki pembawaan apapun, bagaikan kertas putih yang dapat ditulisi dengan apa saja yang dikehendaki sebagimana teori komunikasi interpersonal .

Sehingga perwujudan dari setiap tingkah lakunya akan ditentukan oleh lingkungan dengan kiat-kiat rekayasa yang bersifat impersonal dan direktif.

Bayi yang baru lahir mempunyai kecenderungan yang sama, yaitu menyusu jika bibirnya bersentuhan dengan payudara ibunya, menangis ketika merasa haus, lapar dan sakit. ini merupakan sebuah rekasi dasar yang secara umum akan dilakukan oleh semua manusia.

Aliran ini lebih dikenal sebagai aliran yang optimistik dan positivistik, hal ini dikarenakan suatu tingkah laku menjadi lebih baik apabila dirangsang oleh usaha-usaha yang nyata, sebab manusia bukanlah robot yang diprogram secara deterministik dalam teori sosial kognitif .

Aliran Konvergensi

Teori inj dipelopori oleh William Stern (1871-1929) dimana ia menggabungkan dua aliran di atas. Konvergensi merupakan interaksi antara faktor hereditas dan faktor lingkungan dalam proses perkembangan tingkah laku. Hereditas tidak akan dapat berkembang secara wajar apabila tidak diberi rangsangan dari faktor lingkungan.

Sebaliknya rangsangan lingkungan tidak akan dapat membina perkembangan yang ideal pada diri manuasia tanpa didasari oleh faktor hereditas. Karenanya dalam  penentuan kepribadian seseorang bukan hanya ditentukan dengan kerja integral antara faktor internal (potensi bawaan) dan faktor eksternal (lingkungan pendidikan) dalam fungsi fungsi komunikasi.

Sifat-sifat yang dimiliki seseorang merupakan salah satu aspek yang diwariskan orang tua kepada anak-anaknya. Seperti, penyabar, pemarah,kikir boros, hemat dan sebagainya. Sifat berbeda dengan kebiasaan. Sifat ini sangat sulit untuk diubah, sedangkan kebiasaan dapat diubah jika dia mengkehendaki dan bersungguh-sungguh mau merubah kebiasaannya itu. Sifat atau kebiasaan merupakan corak dari kepribadian seseorang atau suku bangsa.

Dalam teori ini hal yang paling penting yang menjadi faktor bawaan adalah keturunan. Sehingga tentunya faktor genetik dari orang tua, menjadi hal yang dapat menjadikan sifat bawaan dari setiap masing masing orang berbeda. Baca juga Cara Agar Selalu Optimis untuk Masa Depan

Pada dasarnya teori ini sudah cukup dapat mewakili apa yang terjadi secara nyata dalam kehidupan masyarakat . Namun pastinya masih dapat dikembangkan secara lebih luas. Sebab masih terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi kepribadian atau bawaan seseorang.

Itulah tadi, Teori Bawaan Manusia Dalam Psikologi Antropologi. Semoga dapat bermanfaat.

PSIKOLOGITEORITEORI BAWAANTEORI PSIKOLOGI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *